Rabu, 21 Desember 2011

DI MALAM NATAL, AKU INGAT IBU

 - kepala leimena muda di siwabessy 26 ambon-

ibu,  adalah satu-satunya perempuan yang tidak pernah pura-pura dan tidak cemburu
aku ingat, ketika aku masih merah, ibu memberiku baju paling putih dan wangi
ibu membawaku ke dekat mesbah, di sana dahiku dimeteraikan untuk keabadian
maka bila aku berkaca di cermin, aku melihat  sungai yordan mengalir dengan gemericik

ibu jualah yang mengajarkan aku  tengkurap, berguling, duduk, merangkak, berdiri
berjalan kaku-kaku, jatuh, bangun, berjalan lagi dan kakiku jadi kokoh
dan aku bisa berlari dan terus berlari, bahkan kini aku bisa terbang
menembus ruang-ruang menembus dimensi-dimensi waktu

“anakku, berjalanlah  hati-hati. berjalanlah di jalan lurus.
kadangkala jalan itu berliku, berbatu, berduri, berdarah
kau harus kuat seperti ibu”

sekali-kali aku heran dan sepertinya mau protes, mengapa ibu memilih jalan ini ?
mendaki, menurun, dan banyak kali kakiku tertusuk duri.
sakit !

“ibu, bukankah di jalan-jalan yang lain ada pesona ?” kataku pada ibu, suatu ketika.

“anakku, keindahan tidak selamanya terlukis di langit.  dan penderitaan tak selamanya melukai.  maka berjalanlah di garis ibu.  garis ibu, anakku.  garis ibu”  katanya dengan senyum yang lebih indah dari rembulan.

sejak itu aku tak pernah lagi bertanya, apalagi berkeluh kesah seperti bangsa yang berjalan di padang gurun.  aku hanya ingat garis ibu.  garis ibu. titik.

dan tiada terasa sudah begitu lama aku berada di garis ibu yang ekstrim. garis ibu yang radikal. garis ibu yang fanatik. aku harus jadi garam yang asin.  aku harus jadi terang yang sangat benderang.  cahayaku bukan untuk rumah dan kampungku sahaja, tetapi harus menerangi seisi bumi.

“itu tidak gampang, ibu,” akhirnya aku mengeluh, suatu ketika.

lalu aku bercerita pada ibu tentang dewi keadilan yang ditembak mati di ibukota, aku bercerita tentang para pencuri yang memenangkan pemilihan umum, aku bercerita tentang keparat-keparat yang menembak rakyat seperti sedang bermain game di komputer, aku bercerita tentang  orang miskin yang mati terinjak-injak saat berebut beras miskin.

aku terkejut ketika ibu berdiri. ibu memegang kedua pundakku.  ibu mengguncang tubuhku. ibu menatap wajahku dengan sorot mata setajam rajawali.  baru pernah aku melihat mata ibu seperti itu.  aku curiga, itu mata tuhan. 

“anakku, tatap mata ibu,” katanya dengan sangat tajam.

aku menatap mata ibu dalam-dalam. aku melihat genangan air di sana.  ada ombak-ombak, arus-arus berputar.  aku teringat meterai abadi di dahiku.

“anakku.  kembalilah ke jalanmu.  sekarang ! dan kalau sudah sampai di sana.  buka mulutmu. jangan cuma diam.  buka mulutmu.  jangan cuma diam. karena kalau cuma diam,  beribu-ribu jenazah sekalipun sanggup untuk diam.  maka demi imanmu yang radikal : buku mulutmu !

ambon, 20 desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar