- kepala leimena muda di siwabessy 26
ambon-
ibu, adalah satu-satunya
perempuan yang tidak pernah pura-pura dan tidak cemburu
aku ingat, ketika aku masih merah,
ibu memberiku baju paling putih dan wangi
ibu membawaku ke dekat mesbah, di
sana dahiku dimeteraikan untuk keabadian
maka bila aku berkaca di cermin,
aku melihat sungai yordan mengalir dengan gemericik
ibu jualah yang mengajarkan
aku tengkurap, berguling, duduk, merangkak, berdiri
berjalan kaku-kaku, jatuh, bangun,
berjalan lagi dan kakiku jadi kokoh
dan aku bisa berlari dan terus
berlari, bahkan kini aku bisa terbang
menembus ruang-ruang menembus
dimensi-dimensi waktu
“anakku, berjalanlah
hati-hati. berjalanlah di jalan lurus.
kadangkala jalan itu berliku,
berbatu, berduri, berdarah
kau harus kuat seperti ibu”
sekali-kali aku heran dan
sepertinya mau protes, mengapa ibu memilih jalan ini ?
mendaki, menurun, dan banyak kali
kakiku tertusuk duri.
sakit !
“ibu, bukankah di jalan-jalan yang
lain ada pesona ?” kataku pada ibu, suatu ketika.
“anakku, keindahan tidak selamanya
terlukis di langit. dan penderitaan tak selamanya melukai. maka
berjalanlah di garis ibu. garis ibu, anakku. garis ibu”
katanya dengan senyum yang lebih indah dari rembulan.
sejak itu aku tak pernah lagi
bertanya, apalagi berkeluh kesah seperti bangsa yang berjalan di padang
gurun. aku hanya ingat garis ibu. garis ibu. titik.
dan tiada terasa sudah begitu lama
aku berada di garis ibu yang ekstrim. garis ibu yang radikal. garis ibu yang
fanatik. aku harus jadi garam yang asin. aku harus jadi terang yang
sangat benderang. cahayaku bukan untuk rumah dan kampungku sahaja, tetapi
harus menerangi seisi bumi.
“itu tidak gampang, ibu,” akhirnya
aku mengeluh, suatu ketika.
lalu aku bercerita pada ibu tentang
dewi keadilan yang ditembak mati di ibukota, aku bercerita tentang para pencuri
yang memenangkan pemilihan umum, aku bercerita tentang keparat-keparat yang
menembak rakyat seperti sedang bermain game di komputer, aku bercerita
tentang orang miskin yang mati terinjak-injak saat berebut beras miskin.
aku terkejut ketika ibu berdiri.
ibu memegang kedua pundakku. ibu mengguncang tubuhku. ibu menatap wajahku
dengan sorot mata setajam rajawali. baru pernah aku melihat mata ibu
seperti itu. aku curiga, itu mata tuhan.
“anakku, tatap mata ibu,” katanya
dengan sangat tajam.
aku menatap mata ibu dalam-dalam.
aku melihat genangan air di sana. ada ombak-ombak, arus-arus
berputar. aku teringat meterai abadi di dahiku.
“anakku. kembalilah ke
jalanmu. sekarang ! dan kalau sudah sampai di sana. buka mulutmu.
jangan cuma diam. buka mulutmu. jangan cuma diam. karena kalau cuma
diam, beribu-ribu jenazah sekalipun sanggup untuk diam. maka demi
imanmu yang radikal : buku mulutmu !
ambon, 20 desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar