api menjilat ombakku tersayang
dan aku mencari tifa di pasir
peluru menembus lambaian kelapa
dan aku mencari totobuang di dusun
batu-batu menghujam lorong kampungku
dan aku mencari syair-syair di pintu
rumah
benteng kita dilanda hujan amarah
dan aku mencari puisi di kaki
pelangi
mana biduanku mana penyairku
mana laguku mana puisiku
aku merasa tak perlu malu menangis
di tugu
biarkan republik ini tahu jiwaku
sedang luka
aku ingin tumpahkan kekalahanku di
perempatan jalan
mengalirkannya sebagai sungai sedih membelah
Ambon
aku biarkan air mata jatuh keringat bergulir
darah banjir
supaya aku mati merana menjadi
legenda teramat pedih
tapi siapa itu sedang bermain gitar
siapa itu tiup suling siapa
siapa itu sedang menyanyi lagu siapa
itu baca puisi siapa
ah, aku takan mati karena Aprino bernyanyi
di gereja
yang menjelma embun dingin
memadamkan bara
aku tak takan beku karena Almascatie
sujud di masjid
yang menjelma bunga-bunga menghiasi
puing-puing
malam menjadi sangat sunyi ketika
jam sembahyang terlewatkan
aku mendengar lagu damai mengalir
seperti air bah tanpa bendungan
Jakarta, 28 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar