Selasa, 20 Desember 2011

APRINO-ALMASCATIE


api menjilat ombakku tersayang
dan aku mencari tifa di pasir

peluru menembus lambaian kelapa
dan aku mencari totobuang di dusun

batu-batu menghujam lorong kampungku
dan aku mencari syair-syair di pintu rumah

benteng kita dilanda hujan amarah
dan aku mencari puisi di kaki pelangi

mana biduanku mana penyairku
mana laguku mana puisiku

aku merasa tak perlu malu menangis di tugu
biarkan republik ini tahu jiwaku sedang luka

aku ingin tumpahkan kekalahanku di perempatan jalan
mengalirkannya sebagai sungai sedih membelah Ambon

aku biarkan air mata jatuh keringat bergulir darah banjir
supaya aku mati merana menjadi legenda teramat pedih

tapi siapa itu sedang bermain gitar siapa itu tiup suling siapa
siapa itu sedang menyanyi lagu siapa itu baca puisi siapa

ah, aku takan mati karena Aprino bernyanyi di gereja
yang menjelma embun dingin memadamkan bara

aku tak takan beku karena Almascatie sujud di masjid
yang menjelma bunga-bunga menghiasi puing-puing

malam menjadi sangat sunyi ketika jam sembahyang terlewatkan
aku mendengar lagu damai mengalir seperti air bah tanpa bendungan

Jakarta, 28 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar